e-learning

Kamis, 15/11/2007 12:05 WIB ‘e-Learning Jangan Sampai Bernasib Seperti VoIP’ Ardhi Suryadhi – detikinet

voip_station.jpg

ilustrasi (ist.)

Kuta, Bali – Semakin meningkatnya teknologi dan implementasi program pembelajaran e-learning di Indonesia, harus diikuti antisipasi yang cepat dari berbagai sektor. Jangan sampai ia (e-learning-red) bernasib seperti Voice over Internet Protocol (VoIP). Hal itu dikemukakan oleh Kepala Pustekkom Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani di sela-sela ajang ISODEL 2007 yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza – Bali — dari 13 hingga 15 November 2007. “Kita harus mengantisipasi perkembangannya, jangan sampai bablas. Sekarang saja korporat sudah mulai menggelar e-learning massal seperti Garuda dan BI, mereka sudah bicara reduce cost bisa tiga kali lipat,” ujarnya kepada beberapa wartawan. Tapi bahayanya, lanjut Lilik, ketika di e-learning itu ada sertifikasi dan dengan itu sudah diakui dunia, dikhawatirkan perkembangannya tak diikuti dengan regulasi yang mengontrolnya. “Sehingga mereka berpikir, ‘lah kita sudah bisa mencari kerja dengan sertifikasi ini’,” tukasnya. Untuk itu Depdiknas menyelenggarakan ISODEL 2007, sehingga dari ajang ini para pemangku kepentingan bisa sharing informasi dan melihat best practice dari negara lain implementasi e-learning itu seperti apa. “Kalau VoIP dulunya itu sebenarnya punya regulasi, tapi lalu karena ada kontra dimana-mana ya jadinya digantung, padahal teknologinya terus jalan,” imbuhnya. Sehingga, dikatakan Lilik, jangan sampai e-learning ini bernasib seperti VoIP dan pemerintah harus cepat mengantisipasi perkembangannya. Mulai dari sisi teknologi, cara implementasi, kebijakan serta quality assurance. Gandeng Komunitas Sementara itu untuk memperkaya konten e-learning tanah air, pemerintah siap menggandeng komunitas penyedia konten. Selain itu, komunitas diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengukur kualitas konten serta memberi masukan dalam membuat kebijakan. “Nah, nantinya kalau ada apa-apa tinggal kita lempar ke komunitas dan mereka pasti cepat melakukannya. Karena konten e-learning kita masih sedikit dan harus dikembangkan, seperti konten dalam mem-protect material, animasi dibuat seperti apa dan yang lain. Jadi seperti partner goverment lah,” ujar Lilik. Sedangkan negara yang bisa dijadikan acuan bagi Indonesia adalah seperti negara-negara di Kepulauan Pasifik dan Laut Karibia. Pasalnya, dengan kondisi geografis yang berpulau-pulau kecil namun mereka berhasil mengembangkan e-learning. “Mereka pembelajarannya distance leaning dan sudah bukan antar pulau tapi sudah antar negara-negara kecil disana, sehingga karakteristiknya mirip dengan kita,” tandasnya. ( ash / dwn )

——————————————————————————————-

Simposium E-Learning Dimulai 13 November di Bali
Rabu, 07 November 2007 | 13:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Departemen Pendidikan akan membuka International Symposium on Open, Distance, and E-Learning (ISODEL 2007) pada 13-15 November 2007 di Bali.

Temanya, “The Emerging Technologies for Teaching and Learning: A New Paradigm of Learning” dengan subtema ICT in Education, New Technologies and New Learning, Quality Assurance in ODEL, dan ODEL Sustainability – Implementation.

Kepala Pustekkom Lilik Gani mengatakan, perkembangan TIK mengubah seluruh aspek kehidupan termasuk pendidikan. Kondisi geografis Indonesia, mengharuskan pembelajaran dengan pemanfaatan TIK.

“Melihat keadaan ini dan perkembangan TIK yang pesat, tidak mungkin pendekatan pembelajaran menggunakan cara konvensional,” katanya dalam jumpa pers di Gerai Informasi dan Media Departmen Pendidikan, Rabu (7/11).

Simposium menghadirkan dua pembicara dari Bank Dunia, dengan melibatkan 300 peserta dari 19 negara seperti Amerika, Jepang, Australia, Hungaria, Iran, Singapura, India, dan Malaysia. Reh Atemalem Susanti

——————————————————————————————-

Moodle Dan Kemudahan Dalam Pengembangan E-Learning

“Moodle” mahluk yang satu ini gak asing lagi , Aplikasi Web PHP yang memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengelola sebuah sistem e-learning . Rasanya ini mahluk cocok diterapin diperguruan tinggi atau sekolah-sekolah .
Intalasinya cukup gampang Kalo pake LINUX tinggal ngejalanin program MYSQL atau PostgreSql , Apache2 dan mengaktifkan modul PHP-nya atau lebih mudahnya Instalasi juga PHPMyadmin buat bantuan bikin database SQL ….
Filenya dapat di download di http://www.moodle.org and kalo ada lembaga pendidikan yang butuh bantuan untuk instalasi serta penggunaan MOODLE ini dengan lengkap hubungi saya atau lihat di web site di http://andri-johandri.org

——————————————————————————————-

Praktik E-Learning di BNI: Tak Selalu Indah Berseri

Kamis, 15 Februari 2007 – 17:43 WIB

Di Indonesia, penerapan praktik e-learning di lingkungan perusahaan masih dipandang sebagai usaha yang tidak efektif, serta sulit karena minimnya dukungan infrastruktur. Kendati demikian, tak sedikit yang telah mulai mencobanya, misalnya Bank BNI 46 yang tergolong sukses, meskipun diakui tak sepenuhnya “indah berseri”.

“Ada pahit-pahitnya juga,” ungkap Manajer E-Learning BNI 46 Mochammad Jukadi ketika menjadi salah satu pembicara di ajang Executive Breakfast di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (15/2/07). Acara yang merupakan forum sharing tentang praktik manajemen HR ini diselenggarakan oleh Oracle bekerja sama dengan DDI, MTI dan PortalHR.com.

Sebagai bank yang memiliki jumlah karyawan sangat besar, yakni 18.500 orang, BNI menyadari betapa pentingnya menerapkan sistem e-learning untuk mengoptimalkan usaha-usaha meningkatkan kualitas SDM.

“Bayangkan dengan karyawan sebanyak itu, kalau pakai sistem pembelajaran konvensional berapa kelas yang harus disediakan, belum infrastrukturnya,” ujar Jukadi. Dikisahkan, BNI melirik sistem e-learning sejak 2004 lalu. Setelah kurang-lebih selama setahun menyusun blue print dan project road map-nya, baru pada 2006 mengoperasikannya.

“Tentu saja dengan didahului proses sosialisasi yang panjang,” kata dia seraya merinci tahap demi tahap proses sosialisasi tersebut. Dari pengenalan tentang ‘apa itu e-learning‘ melalui media internal sampai membuat aktivitas-aktivitas yang menggunakan learning manajemen system, misalnya survei online.

“Untuk menarik karyawan, kita beri hadiah misalnya untuk responden terbaik.” Selain itu, kunci sukses penerapan e-learning di BNI menurut Jukadi tak lepas dari dukungan top management. “Kita adakan launching formal agar karyawan tahu bahwa ini hajat perusahaan dan bukan sekedar program dari departemen HR saja.”

Jukadi juga berbagi tips, untuk menggairahkan keterlibatan karyawan, perlu diadakan program insentif. “Kalau di BNI, kami ada learner award, dengan hadiah laptop.” Namun, ia buru-buru menegaskan bahwa semua itu hanya sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran karyawan.

“Nanti kalau sudah berjalan baik, ya (hadiah-hadiah) itu dihapus, bisa bangkrut perusahaan kalau terus-menerus,” katanya setengah berkelakar.

Tak kalah penting, demikian Jukadi, harus diingat sejak awal bahwa penerapan sistem pembelajaran e-learning bukanlah sekedar urusan pemanfaatan teknologi untuk mencapai efektivitas dan fleksibilitas.

“Banyak faktor yang perlu diperhatikan, terutama bagaimana mengubah paradigma atau mindset pegawai agar mereka mau mengakses sistem ini.” Tantangan lain, disebutkan Jukadi di antaranya soal bandwidth yang sangat besar. “Ini bisa disiasati dengan pembatasan akses sampai jam tertentu.”

——————————————————————————————-

Apa E-learning itu?

Definisi e-learning
Banyak perubahan dengan sangat cepat tentang e-learning, sebelum kata ‘E-learning’ menjadi popular banyak kata-kata pembelajaran yang telah digunakan dan masih tetap digunakan seperti terlihat dibawah ini :


  • Pembelajaran jarak jauh (open distance learning )
  • Pengajaran berbasis Web (web based training )
  • Pengajaran berbantuan komputer (computer based training )
  • Pembelajaran berbasis teknologi (technology based learning )
  • Pembelajaran secara online (online learning )

pembelajaran baik secara formal maupun informal yang dilakukan melalui media elektronik, seperti Internet, CDROM, video tape, DVD, TV, Handphone, PDA dll.
Bentuk-bentuk seperti diatas tidaklah semuanya sama. E-learning lebih luas dibandingkan dengan online learning. Online learning hanya menggunakan Internet/intranet/LAN/WAN tidak termasuk menggunakan CDROM.

——————————————————————————————-

Bintang-bintang e-Learning Award 2007
Kamis, 08 November 2007
Oleh : A. Mohammad B.S.

Inilah 6 pemenang pertama dari tiap kategori/subkategori yang dilombakan di ajang e-Learning Award 2007. Mari kita belajar dari keberhasilan mereka!

Pemenang Kategori Best Online Learning
Subkategori Non-Perusahaan

Universitas Terbuka:
Sukses Tanpa Keahlian Teknis

Universitas Terbuka (UT) dinilai para juri sukses mengembangkan model pembelajaran via Internet. Menurut Tengku Eduard Azwar Sinar, Koordinator UT Online, pembentukan sistem pembelajaran secara online di lembaganya dilandasi kebutuhan komunikasi antara dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari proses belajar. gInisiatornya adalah Pemimpin UT terutama Prof. Tian Belawati, Pembantu Rektor Bidang Akademis,h ungkap Eduard. Adapun pengembangnya adalah staf Pusat Komputer UT.

Dana yang dikucurkan buat proyek ini lebih banyak digunakan untuk pengembangan Learning Management System dan konten (bahan tutorial). Bahasa program yang digunakan cukup populer, yaitu: PHP, JavaScript, dan Pearl. gUniversitas Terbuka, walaupun tidak punya keahlian teknis, mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk sistem pendidikan online,h Kepala Pustekkom, Lily Ganie, memuji.

Sistem online learning di UT berisi layanan (semuanya berciri online) bagi mahasiswa yang mencakup mulai dari registrasi, konseling dan tutorial, latihan mandiri, pengecekan nilai ujian, lembar kemajuan akademis mahasiswa, jurnal, hingga pelaksanaan ujian. Fasilitas yang disediakan terdiri dari Tutorial Online, Informasi Akademis (Sejarah Nilai, LKAM Online, Bahan Ajar Audio Video/Suplemen, Registrasi Ujian Berbasis Komputer), dan Forum. Penggunaannya terbilang mudah karena tombol dan petunjuknya dalam bahasa Indonesia.

Materi ajar yang disediakan sistem online learning ini (beralamat http://www.ut.ac.id) merupakan tutorial dan tugas dari mata kuliah, sehingga mahasiswa dapat dengan mudah mengakses jika tertinggal salah satu mata kuliah. Juga, materi diberikan berbasis dokumen yang sudah umum (Word, Excell), interaktif (Flash, JavaScript), dan multimedia (audio video). Diklaim Eduard, hingga masa registrasi pertama pada 2007, jumlah mahasiswa yang mengikuti tutorial online sebanyak 8 ribu orang.

Toh, sistem online learning UT ini dinilai masih memiliki kekurangan. Yakni, sistemnya baru bisa mendeteksi durasi mahasiswa dalam kegiatan, belum termasuk detail aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mengakses.

Pemenang Kategori The Best Online Learning
Subkategori Perusahaan

Garuda Indonesia:
Dikembangkan dari Program Open Source

Sistem pembelajaran melalui Internet (e-Learning) di Garuda Indonesia sudah dikembangkan sejak dua tahun lalu. Implementasinya dilakukan sejak Juli lalu.

Menurut Wahyu Sardjono, GM Riset & Pengembangan Garuda Indonesia Training Center (GITC), untuk pembuatan program Learning Management System (LMS) dilakukan oleh empat karyawan Unit Teknologi Informasi GITC. Uniknya, Garuda memakai program open source bernama Moodle yang tinggal diunduh di Internet, lalu disesuaikan dengan kebutuhan Garuda. gTujuan utama pengembangan LMS ini adalah untuk menciptakan Knowledge Management di Garuda,h ucap Wahyu.

Di dalam LMS terdapat fitur untuk melihat modul pelatihan bagi pramugari, pilot, teknisi dan sebagainya. Selain itu, dibuatkan sarana forum agar karyawan bisa bertukar pikiran. Sistem ini juga memuat kebijakan-kebijakan perusahaan yang ditempuh, baik yang lama maupun baru. Saat ini sudah 10 modul pelatihan yang dimasukkan ke LMS dan akan terus ditambah dari waktu ke waktu. gNantinya diseleksi modul mana saja yang akan dimasukkan,h ujar Teguh Triyatno, VP GITC.

LMS nantinya lebih mengarah sebagai fasilitas knowledge sharing. Jadi, bukan sekadar media pembelajaran, tapi sekaligus sarana komunikasi kebijakan perusahaan. Dengan LMS ini, Garuda ingin mengubah pusat pembelajaran dari berbasis instruktur menjadi berbasis peserta. Lebih jauh, mereka berdua mengharapkan dengan LMS ini akan membawa perubahan kultur, supaya karyawan lebih IT-minded.

——————————————————————————————-

e-Learning sebagai solusi atas keterpurukan SDM Bangsa Indonesia

@Suryo Agus T (Alumni Ang I Reg I)

Semakin melemahnya bangsa ini pasca krisis moneter yang kita alami telah membuat Indonesia berada di urutan bawah dalam hal kualitas pendidikannya. Minimnya sarana dan prasarana pendukung menyebabkan pengajaran tidak dapat dilakukan dengan optimal.

Ditambah lagi kebijakan pemerintah yang memangkas subsidi untuk perguruan tinggi telah mengakibatkan banyak perguruan tinggi menaikkan biaya kuliah,sehingga banyak putra-putra bangsa yang kehilangan kesempatan untuk kuliah karena terbentur masalah biaya.Melihat kondisi di atas maka perlu diadakan sebuah terobosan baru dalam dunia pendidikan. Teknologi komunikasi dan informasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Salah satu wujud pemanfaatan teknologi ini adalah melalui pengembangan e-learning di sekolah dan perguruan tinggi. e-Learning merupakan suatu teknologi informasi yang relatif baru di Indonesia. e-Learning terdiri dari dua bagian, yaitu �e� yang merupakan singkatan dari �elektronika� dan �learning� yang berarti �pembelajaran�. Jadi e-Learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Karena itu, maka e-Learning sering disebut pula dengan �on-line course�. e-Learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik. Kini, e-Learning menjadi salah satu alternatif pembelajaran karena keunggulan yang dimilikinya Sayangnya, meskipun disadari e-learning dapat membantu mempercepat proses pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan, pemanfaatannya belum populer di sekolah-sekolah bahkan di perguruan tinggi di Indonesia.

Padahal teknologi informasi dapat dipergunakan untuk memperluas daya jangkau kesempatan pendidikan ke seluruh pelosok Tanah Air. Upaya ini bisa dilakukan dengan mengembangkan sistem delivery sumber-sumber pendidikan Sistem delivery itu dapat dilakukan dengan menggunakan kemajuan teknologi, termasuk dalam hal ini dengan sistem belajar jarak jauh, Penggunaan e-Learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999) Internet adalah �a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources�. Jadi Internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaringan yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti kalau e-Learning bisa dilaksanakan karena jasa Internet ini. e-Learning sering disebut pula dengan nama on-line course karena aplikasinya memanfaatkan jasa Internet.

e-LEARNING Menyadari bahwa di Internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan dimana saja, maka pemanfaatan Internet menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja, pengguna Internet bisa berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui teknik e-moderating yang tersedia di Internet. Tersedianya fasilitas e-Moderating dimana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas Internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui Internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari; Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di computer.

Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di Internet secara lebih mudah. Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui Internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri, dsb-nya.

Walaupun demikian pemanfaatan Internet atau e-Learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan dan berbagai kritik, antara lain dapat disebutkan sbb:

� Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;

� Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;

� Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;

� Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;

� Tidak semua tempat tersedia fasilitas Internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);

� Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal Internet; dan

� Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Meskipun dengan adanya berbagai kekurangan di atas bukan berarti menyurutkan pengembangan e-learning di Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang besar maka e-learning bisa menjadi sebuah solusi tepat untuk pemerataan kualitas SDM. Akan lebih murah membangun infrastruktur internet sebagai sarana pendukung e-learning ketimbang membangun sekolah atau perguruan tinggi baru di daerah-daerah terpencil. Namun semuanya kembali kepada pemerintah sebagai pemegang kebijakan, apakah mau berpihak kepada kepentingan jangka panjang, yaitu investasi sumber daya manusia.

——————————————————————————————-

Ini Era e-Learning, Bung!
Kamis, 08 November 2007
Oleh : A. Mohammad B.S.

Makin banyak perusahaan di Indonesia yang mempraktikkan e-learning untuk melatih/mendidik karyawan mereka secara lebih efektif dan efisien. Apa saja manfaat yang telah mereka rasakan?

“E-learning is the next major killer application.” Demikian prediksi yang dikemukakan John Chambers, CEO Cisco Systems, 6 tahun silam. Prediksi itu tak jauh meleset. Seiring perkembangan Internet, penggunaan sistem e-learning pun tumbuh luar biasa. Internet telah digunakan sebagai tool untuk melakukan pembelajaran.

Pakar e-learning dunia Marc J. Rosenberg mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan teknologi Internet untuk menyampaikan berbagai macam solusi guna meningkatkan pengetahuan dan kinerja. Jadi, e-learning mengacu pada kegiatan pembelajaran atau transfer informasi dan skill dengan menggunakan media Internet.

Belakangan banyak perusahaan di dunia mengadopsi e-learning untuk para karyawannya. Bahkan, survei yang dilakukan American Society for Training & Development pada 2004 mengungkapkan bahwa hampir 60% perusahaan di Amerika Serikat telah atau mulai mengimplementasi e-learning di perusahaan mereka.

Di Australia, seperti dikemukakan Hanny Santoso, praktisi teknologi informasi (TI) dan e-learning asal Tanah Air, tak kalah fenomenal. Dipicu biaya pelatihan dan tenaga pelatih yang cukup mahal, kini banyak perusahaan beralih ke e-learning. Untuk memberi solusi efektif e-learning, banyak perusahaan di Australia menggunakan pendekatan fully blended learning. Lalu, semua universitas dan perguruan tinggi pun memiliki pusat pengembangan e-learning. Yang tak kalah penting, ada dukungan penuh dari pemerintah. Melalui departemen pendidikan dan perindustrian, pemerintah pusat dan negara bagian memberi dukungan dana puluhan juta dolar untuk berbagai proyek e-learning. Depperindag di Victoria misalnya, memberi akses gratis Learning Management System (LMS) Blackboard yang dipusatkan layaknya sebuah application service provider, sehingga dapat dipakai oleh semua penyelenggara kursus dan institusi pendidikan di Victoria.

Tak hanya itu. Pemerintah Australia juga mengucurkan dana untuk pembuatan ribuan Learning Object (LO) dari berbagai mata kuliah – yang dapat diakses gratis oleh setiap guru/dosen untuk membuat bahan ajar dalam format e-learning. Dengan adanya LO, mereka tidak perlu lagi membuat ulang bahan yang sudah ada. Institusi tinggal mengambil yang sudah ada di repositori, mengedit dan memperkayanya. Pengembangan bahan diawasi oleh para Certified Instructional Designer dan secara teknis dialihdayakan ke perusahaan swasta. Menariknya, repositori LO setiap negara bagian saling terhubung dan dapat diakses.

Pemerintah Australia juga membuat lembaga standardisasi nasional e-learning, yang disebut E-learning Standard Group. Tugasnya mengatur standar metadata LO; arahan desain bahan-bahan e-learning; standar penggunaan aplikasi; standar desain konten e-learning, dan sebagainya. “Umumnya, bagian pengembangan SDM perusahaan skala menengah dan besar sudah memikirkan penggunaan e-learning secara efektif untuk pelatihan karyawannya. Begitu pula lembaga pendidikan,” ungkap Hanny. “Dan yang lebih penting lagi, pemerintahnya sangat mendukung,” kata akademisi yang hingga saat ini menjabat Manajer ICT Architecture e-Works di salah satu negara bagian di Australia.

Bagaimana di Indonesia? “Penerapan e-learning di Indonesia sudah pada taraf yang lumayan dari segi awareness. Semangat dan penerapan e-learning ini semakin bertumbuh di kalangan industri dan institusi pendidikan,” kata Hanny berpendapat. Penilaian Hanny dikuatkan oleh Zainal A. Hasibuan. Menurut Wakil Dekan Bidang Akademis Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini, belakangan semakin banyak perusahaan di Indonesia yang sadar bahwa model pembelajaran/pelatihan tatap muka – mesti meninggalkan tempat bekerja dan berkumpul di suatu tempat – sudah bisa digantikan dengan model e-learning. “Walaupun penerapan e-learning di Indonesia masih dalam tahap pemula, dalam dua tahun terakhir ini perkembangannya sangat pesat,” ucap pakar ilmu komputer ini.

Ditulis dalam UAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: