CYBER CRIME DI INDONESIA

Cyber Crime

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini komputer, khususnya internet, menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Kini segala bidang menjadikan internet sebagai syarat mutlak pada penggunaannya. Contohnya saja seperti e-banking, e-commerce, e-government, e-education, dan hal-hal lain. Internet kini bukan lagi menjadi barang awam yang kita tidak tahu bagaimana memanfaatkannya. Bahkan untuk kehidupan kota, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan ICT (Information and Computer Technology) dalam  rangka mempermudah kita menjalankan kehidupan sehari-hari. Internet memungkinkan kita memasuki dunia baru yang disebut cyberspace, dimana kita berkomunikasi secara virtual, namun seolah-olah kita berhubungan langsung dengan pihak yang kita ajak berkomunikasi.

Namun sebuah hal baik tak pernah lepas dari sisi negatif yang timbul atau mungkin berpotensi timbul. Begitu juga teknologi internet ini yang memungkinkan tindak kejahatan yang dulu terjadi secara konvensional menjadi lebih fleksibel dan dapat menggunakan media computer online sebagai jembatan yang selanjutnya dapat mengakibatkan dampak yang jauh lebih besar. Kejahatan ini umunya dinamakan cybercrime. Untuk lebih jelasnya, cybercrime umumnya dirumuskan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan memakai jaringan komputer sebagai sarana/ alat atau komputer sebagai objek, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tidak, dengan merugikan pihak lain.

Indonesia sebagai Negara yang juga ikut mengembangkan dunia cyberspace dalam kehidupan sehari-hari ini juga mencatat bahwa banyak terjadi kasus cybercrime di Indonesia. Bahkan pada tahun 2009 Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia untuk Jumlah kasus cyber crime atau kejahatan di dunia maya. Kejahatan – kejahatan cybercrime seperti Carding (berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu kredit orang lain yang diperoleh secara ilegal, biasanya dengan mencuri data di internet), hacking (kegiatan menerobos program komputer milik orang/pihak lain), cracking (hacking untuk tujuan jahat), defacing (kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain), phising (kegiatan memancing pemakai komputer di internet agar mau memberikan informasi data diri pemakai / username dan kata sandinya / password pada suatu website yang sudah di-deface), spamming, serta malware merupakan beberapa contoh cybercrime yang terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki prestasi menakjubkan dalam cyberfraud atau cyber crime terutama pencurian kartu kredit (carding), urutan ke-2 setelah Ukraina (Clear Commerce). Indonesia menduduki peringkat ke-4 masalah pembajakan software setelah Cina, Vietnam, dan Ukraina (International Data Corp). Beberapa kelompok cracker Indonesia ter-record cukup aktif di berbagai situs keamanan dalam kegiatan pembobolan (defacing) situs. Kejahatan dunia cyber hingga pertengahan 2006 mencapai 27.804 kasus (APJII). Sejak tahun 2003 hingga kini, angka kerugian akibat kejahatan kartu kredit mencapai Rp 30 milyar per tahun (AKKI). Akibatnya kini layanan e-commerce di luar negeri banyak yang memblok IP dan credit card Indonesia.

Padahal kalau ingin membahas  hukum yang mengatur mengenai cybercrime, Indonesia pun sebenarnya sudah memiliki Undang – Undang yang mengatur mengenai hal ini. Adapun Undang-Undang yang dimaksud adalah Undang-Undang ITE. Jadi sebenarnya kita sudah memiliki cyberlaw yang menjadi payung bagi aturan-aturan yang terkait dengan dunia cyber. UU ITE sesungguhnya dapat pula dijadikan payung karena beberapa hal yang terkait dengan  kepastian hukum mengenai informasi elektronik telah diadopsi UU ITE semisal perebutan nama domain, HAKI, perlindungan informasi pribadi, hacking, cracking, carding, serta perdagangan password telah dibahas dalam Undang-Undang ini.

Namun rasanya kalau hanya mengandalkan undang-undang saja tidak terlalu signifikan untuk mengurangi nilai kejahatan cybercrime. Diperlukan usaha konkrit yang lebih aktif untuk mencegah, membatasi, serta mnanggulangi cybercrime. Dalam hal ini, peran dari ISP (Internet Service Provider) sangat dibutuhkan. ISP diharapkan dapat bekerja sama untuk mendeteksi serta mencegah terjadinya cybercrime. Karena sebenarnya ISP –ISP tersebut memiliki kemampuan untuk mendeteksi terjadinya cybercrime melalui fasilitas internet yang disediakannya.

Sumber :

http://azamul.files.wordpress.com/2007/06/thesis-cybercrime-di-indonesia.pdf

http://blog.unila.ac.id/ryant/2009/06/01/perkembangan-cyber-crime-dan-regulasinya-di-indonesia/

http://kemahasiswaan.um.ac.id/wp-content/uploads/2010/04/PKM-GT-10-UM-Nodistya-Cyber-Crime-di-Indonesia-1.pdf

http://eagleeyeindonesia.blogspot.com/2010/12/cyber-crime-indonesia-peringkat.html

Ditulis dalam UAS
One comment on “CYBER CRIME DI INDONESIA
  1. alvin mengatakan:

    hehehehhe????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: